DIA MENANGIS UNTUK PERTAMA KALINYA

Oleh : Humaira Meirina
06 November 2008

Ada saat dimana kita tidak bisa memenuhi janji karena keadaan yang tidak bisa dihindari. Dan entah mengapa, hari ini aku seperti mendapat teguran dari Allah atas satu sikapku yang kurang bersyukur padaNya.

Untuk memenuhi beberapa janji hari ini, banyak sekali mendapatkan hambatan. Janji untuk rapat di KTC jam 10 pagi terhalang dengan pengumpulan laporan praktikum fisiologi tumbuhan. Dan sore ini, aku terlambat pergi rapat yang ditunda pagi tadi. Mengapa? Ada teman yang butuh didengar masalahnya. Dengan linangan air mata, bagaimana mungkin aku meninggalkannya? Sempat terlintas di pikiranku, antara janji rapat dengan mendengar masalah teman yang sangat penting, manakah yang harus kita pilih? Tentu ada konsekuensi saat memilih salah satu dari dua pilihan tsb. Bisa saja aku memenuhi keduanya, namun konsekuensinya adalah keterlambatan sampai di tempat rapat. Adilkah?

Namun bukan hal itu yang memenuhi kepalaku. Memori tadi sore yang masih melekat erat. Saat aku mendengar curhat teman tentang keadaan orang tuanya yang tidak ikut andil dalam membesarkan dirinya, tidak memberi kasih sayang yang seharusnya ia dapatkan, detik itu juga aku mengerti sebab mengapa dia memiliki sifat yang keras, kasar, dan “bebas”. Padahal ia seorang wanita. Ya! Ia tumbuh dalam keadaan dimana tidak ada bimbingan orang tua yang membentuk karakter diri, melainkan lingkungan yang terpolusi oleh hal yang sangat tidak baik untuk seorang wanita dewasa. Mendidik seorang wanita dan menjaga akhlak serta imannya sungguh tidak mudah. Dan sekarang adalah waktu yang tidak mudah baginya untuk berubah. Seorang penyair mengatakan, “ Jika ranting itu Anda luruskan, ia pasti bisa lurus dan tegak. Namun, jika kayu itu ingin Anda luruskan, mustahil ia menjadi lurus.”
“Aku tumbuh besar sendiri dari sejak kecil, jauh dari didikan orang tua, bahkan aku tidak mengenal pribadi mereka dan apa tuntutan mereka, Ela. Namun, yang membuat aku tegar berkali-kali adalah saat melihat anak-anak jalanan yang mencari rezeki dengan susah payah demi sesuap nasi sebagai penyambung hidup. Sedangkan aku hanya kehilangan kasih sayang, bukan dibuang seperti itu. Maka bersyukurlah mereka yang memiliki orang tua yang memperhatikan, menyayangi, dan mendidik mereka dengan penuh ketulusan. Sungguh...bersyukurlah... .”

Aku tidak sanggup membendung air mata yang menyesak keluar. Teringat, kadang aku merasa terganggu dengan sikap Mama yang berlebihan memproteksiku. Ayah yang tidak mengizinkan aku untuk belajar di luar Aceh karena alasan kesehatanku yang tidak bisa diajak kompromi. Tapi dia...Ya Allah...

Kalau aku tidak mendengar langsung dan melihatnya bercerita dengan linangan air mata, mungkin aku tidak percaya. Perkataan ini keluar dari mulut seorang yang biasanya kasar, ceplas-ceplos tanpa memikirkan perasaan orang lain. Namun, kali ini dia menangis, hal yang sangat jarang dia lakukan. Bahkan tidak pernah. Dan sekarang aku menyayanginya dan ikut menangis. Bukan, bukan kasihan. Tapi sayang itu timbul saat melihat sepetak hatinya yang begitu murni, apa adanya. Aku belajar saat itu juga, bahwa siapapun dia, sekeras apapun sikapnya, secuek apapun, seseorang butuh kasih sayang, butuh untuk didengar masalahnya. Walaupun dia tidak pernah meminta, tapi sebenarnya dia butuh itu. Seharusnya kita yang berada di dekatnya menyediakan waktu walau sebentar untuk mendengarnya. Bukankah kita menginginkan hal yang sama? Dan hari ini aku tidak merasa rugi sedikitpun. Biarlah aku sedikit terlambat rapat. Yah.. begitulah skenario Allah, cara-Nya begitu indah untuk mengingatkanku agar mensyukuri karuniaNya berupa orang tua terbaik yang tidak pernah berhenti menyayangiku. Ya. The place where I am. Terima kasih karena sudah mempercayaiku untuk mendengar masalahmu, teman.


0 komentar: